Sejarah Masjid Agung Demak [Lengkap]

Sejarah Masjid Agung Demak – Bila anda sedang mencari Masjid tertua di Indonesia, maka Masjid Agung Demaklah itu. Masjid ini berlokasi di Jawa Tengah. Tepatnya di Kampung Kauman, Kel. Bintoro, Kec. Demak, Kab. Demak, Jawa Tengah.

Masjid Agung Demak ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para walisongo ketika dahulu menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Disebut-sebut, Raden Patahlah yang menginisiasi pendirian Masjid ini.

Raden Patah merupakan raja pertama dari kesultanan Demak. Beliau memimpin kerajaan sekitar abad ke-15 Masehi.

Bersama wali songo, Raden Patah mendirikan Masjid Agung yang khas nan kharismatik ini dengan memberi gambar yang mirip dengan bulus (semacam kura-kura berpunggung lunak). Hal tersebut ternyata adalah sengkala memet, dengan arti sarira sunyi kiblating Gusti yang memiliki makna tahun 1401 Saka.

Bila badan bulus itu difilosofikan, kepala memiliki arti 1; empat kaki memiliki arti 4; tempurung atau badan bulum memiliki arti 0; dan ekor bulus memiliki arti 1. Dari filosopi bulus ini, Masjid Agung Demak diperkirakan didirikan Raden Patah pada tahun 1401 Saka bertepatan dengan 1 safar.

Sekilas tentang Raden Patah

Senapati Jimbun atau Panembahan Jimbun. Begitu beliau dikenal oleh beberapa pihak. Lahir di Palembang pada tahun 1455, Raden Patah merupakan pendiri sekaligus raja Demak pertama yang memerintah dalam rentang waktu 1500-1518, sebelum akhirnya wafat pada tahun 1518.

Ada sebuah kronik Tiongkok (berita Tiongkok) dari Kuil Sam Po Kong, Semarang yang memberitakan bahwa Raden Patah memiliki nama Tionghoa yakni Jin Bun (artinya orang kuat) tanpa ada embel-embel marga di depannya. Ini karena hanya ibunya saja yang memiliki darang Tionghoa.

Nama tersebut selaras dengan nama Arabnya ‘Fatah’ (patah) yang memiliki arti kemenangan. Pada masa pemerintahan Jin Bun inilah Masjid Agung Demak didirikan, di sana pulalah ia dimakamkan.

Babad Tanah Jawi menceritakan, Raden Patah emoh menggantikan Arya Damar dan menjabat sebagai Adipati Palembang, hingga ia kabur ke pulau jawa ditemani dengan Raden Kusen. Di jawa, tepatnya Suabaya, keduanya berguru ke Sunan Ampel.

Menurut berita tiongkok, Jin Bun pindah dari Surabaya ke Demak pada tahun (sekitar) 1475. Kemudian beliau menaklukkan Semarang dua tahun setelahnya, yakni tahun 1477 sebagai bawahan / daerah kekuasaan Demak.

Hal itu membuat Kungtabumi di Majapahit resah, namun berkat bujukan Sunan Ampel / Bong swi hoo, Kungtabumi akhirnya bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, hingga kemudian meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bintoro.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Masjid kharismatik ini memiliki serambi atau bangunan-bangunan induk yang memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari empat tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, makanya dinamai juga saka tatal. Bangunan induk ini adalah ruang terbuka. Biasanya tanpa karpet masjid.

Atap Masjid Agung ini berbentuk Limas. Ditopang dengan delapan buah tiang yang dinamai saka majapahit. Atapnya terdiri dari tiga umpukan yang memfilosofikan iman, islam, dan ihsan.

Di Masjid Agung Demak terdapat ‘pintu bledeg’, mengandung candra sengkala (angka tahun yang disimbolkan dengan gambar, benda, atau kata-kata) yang bisa dibaca Naga Mulat Salira Wani yang artinya 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Bila anda masuk ke dalam lokasi kompleks, di sana terdapat pula makam-makan raja Kesultanan Demak. Di antara makam-makam itu juga terdapat makam Sultan Fattah (Raden Patah), yang adalah raja pertama bersama dengan makam para abdi-abdinya.

Ada juga museum Masjid Agung Demak yang menampilkan berbagai macam peristiwa, riwayat, dan sejarah Masjid Agung Demak.

Pada tahun 1995, Masjid ini pernah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan situs warisan dunia.

Leave a Reply