Sejarah Masjid Agung Banten [Lengkap]

Sejarah Masjid Agung Banten – Banten adalah provinsi paling barat di pulau jawa. Pernah menjadi bagian dari provinsi jawa barat sampai tahun 2000, sebelum memisahkan diri menjadi provinsi yang berdiri sendiri. Hal tersebut dicatat dengan keputusan Undang-undang No. 23 Tahun 2000. Dan ibukota atau pusat pemerintahannya berada di kota Serang.

Masjid Agung Banten merupakan satu dari sekian Masjid tertua yang ada di Indonesia. Selain juga menjadi Masjid yang dipenuhi dengan nilai-nilai sejarah.

Masih difungsikan sebagai Masjid sebagai mana mestinya, namun juga Masjid Agung Banten ini setiap harinya selalu dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat saja.

Salah satu ‘khas’ Masjid ini adalah bentuk menaranya yang dibangun mirip seperti mercusuar. (mercusuar merupakan bangunan menara yang membantu navigasi kapal laut dengan sumber cahaya yang dipancarkannya di puncak menara –red).

Masjid Agung Banten didirikan pertama kali pada tahun 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (masa kekuasaan 1552 – 1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin merupakan putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Sekilas tentang Sultan Maulana Hasanuddin

Sejarah Banten mengatakan bahwa Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra pertama Sunan Gunung Jati. Konon pata tahun 1527, sultan ikut serta bersama Kerajaan Demak menaklukkan Pelabuhan Kelapa yang pada saat itu masih di bawah kekuasaan Kerjaan Pasundan.

Lalu melakukan perluasan kekuasaan sampai ke Lampung; ke daerah penghasil lada. Di sana ia mendirikan benteng  Surosowan, benteng pertahanan yang kemudian menjadi pusat pemerintahan ketika Banten telah menjadi kerajaan yang berdiri sendiri.

Lokasi Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten ini berlokasi di Desan Banten Lama, tepatnya di Desan Banten. Bila dari kota Serang, Masjid ini sekitar 10 km di sebelah utara.

Akses menuju ke Masjid ini bisa dilakukan dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Bila berangkat dari Terminal Pakupatan, Serang, bisa menggunakan bus jurusan Banten Lama.

Arsitektur Masjid Agung Banten

Wikipedia menuliskan, yang menjadi ciri khas paling utama dari Masjid ini adalah atap bangunan utamanya yang bertumpuk-tumpuk sebanyak lima buah. Hal ini tentu menjadi mirip seperti pagoda China.

Di Masjid ini ada makam-makam sultan Banten dan keluarganya yang sering diziarahi oleh para peziarah. Di antara makam-makan itu adalah makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istri, makam Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar, dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Di serambi selatan, tepatnya sebelah utara serambi selatan ada makam Sultan Zainul Abidin, Sultan Maulana Muhammad, dan lainnya.

Ada dua pavilion tambahan di Masjid ini. Letaknya di sisi selatan bangunan inti Masjid. Pavilion ini diberi nama Tiyamah. Bentuknya persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, wajar saja karena bangunan ini dulu dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel.

Menara Masjid Agung Banten

Terletak di sebelah timur Masjid, menara ini dibuat dengan batu-bata. Menjulang dengan ketinggian kira-kira 24 meter, menara ini memiliki diameter bawah sepanjang 10 meter.

Konon katanya, semua berita Belanda yang memuat tentang Banten, pasti menyebutkan menara ini. Entah mungkin karena menara ini selalu menarik perhatian pengunjung Banten pada masa lalu.

Ada sekitar 83 buah anak tangga untuk mencapai puncak menara, selain pula harus melewati lorong yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Di atas menara kita bisa melihat pemandangan laut yang indah karena memang jarak menara ini dengan laut hanya sekitar 1,5 km saja.

Dahulu menara ini digunakan untuk mengumandangkan adzan, selain pula digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

Leave a Reply